Menyibak Tirai Dunia Lama Melalui Lembar-Lembar Mappa Mundi Hereford
Selalu menggoda untuk menilai dunia dengan standar hari ini. Namun, ketika dihadapkan pada peta Mappa Mundi Hereford yang dibuat sekitar tahun 1300-an, kita dipaksa melihat ulang bagaimana manusia memaknai kekuasaan, ilmu pengetahuan, dan relevansi geografi di masa lampau. Sebagai jurnalis yang mencari keterkaitan antara peta kuno dan dinamika kontemporer, saya mendapati Hereford bukan sekadar artefak museum: ia adalah representasi psikopolitis zaman yang mereduksi dunia dalam narasi kekuasaan dan identitas.
Peta yang Tidak Pernah Netral: Simbol Kekuasaan Gereja dan Identitas Eropa
Mappa Mundi Hereford bukan sekadar gambaran geografis, melainkan cermin cara gereja Eropa memonopoli kebenaran. Alih-alih berfungsi seperti Google Maps masa kini, peta ini adalah upaya simbolik untuk mengatur pengetahuan dan hierarki dunia. Jerusalem jelas menjadi sumbu semesta, menempatkan tanah suci di pusat segala sesuatu dan menunjukkan sentralitas Kekristenan dalam geopolitik masa itu.
“Peta ini bukan objek pasif—melainkan alat proyeksi kekuasaan,” kata Jerry Brotton, pakar sejarah pemetaan dari Queen Mary University of London. “Bagaimana sebuah masyarakat melihat dunia, merefleksikan bagaimana ia memandang dirinya sendiri.”
Selama abad ke-13, narasi yang didikte oleh gereja tidak terbantahkan. Jalan-jalan ke Roma dan kota-kota suci digambarkan tanpa skala yang jelas; sebaliknya, wilayah musuh dan dunia luar Eropa muncul sebagai tanah misteri, penuh legenda, monster, dan kekacauan. Di sini, kartografi berselingkuh dengan propaganda: siapa yang dianggap asing, dicoret dari peta peradaban.
Fakta, Mitos, dan Pengaruh Politik: Distorsi pada Lembar Kulit Binatang
Tidak ada smartphone, satelit, atau foto udara. Para pembuat Mappa Mundi mengandalkan perkamen dan imajinasi. Peta selebar 1,6 x 1,3 meter ini dibuat dari kulit sapi dan dipenuhi detail yang tidak kurang membingungkan. Asia ditempatkan di bagian atas, Eropa di kiri bawah, Afrika di kanan. Laut Merah dicat merah menyala—bukan karena data lapangan, melainkan simbolisme spiritual.
Studi dari Hereford Cathedral Library memperlihatkan, peta ini lebih banyak mengaburkan fakta daripada mengungkap realitas. Monster aneh, Amazon, hingga kota-kota khayali muncul berdampingan dengan kota sungguhan seperti Paris dan Roma. Gagasan soal Orient—Timur sebagai dunia penuh keajaiban—adalah cerminan prasangka dan pengetahuan setengah matang Barat terhadap Asia dan Afrika.
Apakah pemeta abad pertengahan benar-benar bodoh? Atau, mungkinkah mereka sadar, kebenaran bukan tujuan utama, melainkan narasi dan legitimasi? “Mappa Mundi adalah sejenis narasi kekuasaan, bukan instrumen eksplorasi,” ungkap Peter Barber, mantan kurator di British Library.
Warisan Politik: Ketika Peta Menjadi Senjata Ideologi
Tidak berlebihan jika menghubungkan Mappa Mundi dengan praktik manipulasi informasi di era sekarang. Lihat bagaimana pemimpin negara atau kelompok relijius, lama sebelum Twitter atau Facebook, mengatur persepsi warga lewat representasi ruang dan batas. Kasus terbaru pemetaan digital di Laut China Selatan atau batas wilayah yang dipersoalkan di Ukraina membuktikan: peta masih senjata geopolitik.
Pada tahun 2022, studi dari The University of Chicago mengemukakan: “Peta digital dan manual tetap menjadi alat ampuh membentuk opini publik soal kekuasaan dan hak teritorial.” Di sinilah Mappa Mundi membuktikan keabadiannya. Agama, negara, bahkan korporasi punya kecenderungan ‘menggambar dunia’ demi kepentingan sendiri—kadang menindas, kadang memuja eksistensi suatu bangsa sambil mengasingkan bangsa lain.
Belajar dari Ketidaksempurnaan: Bagaimana Peta Kuno Membentuk Cara Pandang Dunia
Bahkan dengan segala kekeliruannya, Mappa Mundi Hereford menjadi pengingat keras: fakta dan pengetahuan kerap dibentuk oleh kekuasaan. Ketika masyarakat terlalu patuh pada satu cara pandang, kebenaran dengan mudah tergelincir menjadi fiksi yang diyakini berjamaah.
Menilik Hereford, kita diajak skeptis. Sebab, di zaman modern pun, ‘peta kognitif’ dalam kepala masyarakat bisa saja bias. Hanya kemasan, aktor, dan teknologinya yang berubah.
Studi Kasus: Mappa Mundi dan Narasi Tentang “Yang Lain”
Sebagai contoh, mitos suku Amazon, manusia berwajah anjing (Cynocephali), hingga makhluk aneh lain menjadi narasi penguat bahwa dunia luar Eropa adalah wilayah tak beradab. Ini bukan sekadar khayalan: narasi serupa terus berulang, baik dalam politik luar negeri, pemberitaan media, ataupun perang budaya digital. Sejarah penyerbuan dan kolonialisme Eropa lebih mudah dipahami jika menelusuri strategi dehumanisasi lawan lewat artefak semacam ini.
“Citra tentang ‘yang lain’ adalah fondasi retorika imperialisme,” ujar Edward Said dalam karya klasiknya, Orientalism. Pemikiran inilah yang melahirkan ketimpangan, ketakutan, dan akhirnya, konflik yang membias secara turun temurun.
Kesimpulan: Menjejak Hereford, Membaca Dunia
Peta kuno, ternyata, bukan hanya dokumen sejarah. Ia berdiri sebagai pengingat abadi: persepsi dan kebenaran adalah arena perebutan. Mungkin, kita tertawa atas kesalahan Mappa Mundi Hereford, namun pertanyaannya—seberapa sering kita jatuh dalam narasi yang sama, jika tidak lebih canggih, hari ini?
Dunia mungkin telah berubah. Namun, kepentingan membentuk peta—baik peta fisik maupun peta imajinasi—tetap menjadi alat politik paling ampuh yang tidak boleh diremehkan.
> Disponsori oleh Dahlia77, situs Games online terbaik. Temukan pengalaman gaming seru dan kompetitif di sana!